Huah..sudah lama sekali saya tidak menulis di blog. Bahkan cara masuk ke akun sendiri pun sampai lupa. ckckck..
Kali ini mau kembali posting naskah yang dimuat di Majalah. Ini naskah untuk rubrik 'Percikan' di majalah remaja 'GADIS'.. Dimuat di bulan Agustus 2016, setahun yang lalu. haha..
Saya ingat waktu itu saya baru bangun dari tidur siang, cek fb dan ada notif masuk. Nama saya dimensyen oleh mba Hairi Yanti, captionnya, "Mba Vina mau Ayam Jahe?". Saya yang masih setengah sadar bingung. Ayam Jahe adalah judul naskah percikan, tapi ini yang memberi tahu adalah ratunya Bobo (sudah banyak karnya mba Yanti di Bobo), masa sih saya kirim ke Bobo. Duh! Error pokoknya!
Kurang yakin juga karena naskah ini sudah lamaaaa sekali dikirimnya. Nyaris gak berani berharap. Akhirnya saya nanya, "Ini dimuat di Bobo, mba?". Mba Yanti jawab, "GADIS."
Whoaa. Langsung loncat-loncat seneng saya. Udahannya mikir, ya masa kirim ke GADIS terus dimuat di BOBO. Linglung...
***
AYAM JAHE
“Emm, enak banget, Sis! Kamu kok pintar membuat kue, sih? Belajar dari Ibumu, ya?” tanya Mala penasaran.
Siska mengangguk senang.
“Wah, ibumu sudah jago masak makanan berat, jago bikin kue juga. Bakat Ibumu nurun ke kamu tuh, Sis.” Mala kembali mencomot sepotong brownies.
Siska hanya tersenyum lalu menggigit brownies buatannya. Mala tidak tahu jika dia tidak bisa memasak menu utama. Ingin sih, belajar. Tapi dulu waktu Siska mengupas bawang merah, matanya berair terus-terusan dan pedih. Belum lagi dengan mengupas kunyit yang meninggalkan bekas kekuningan dan sulit hilang. Sekali-kalinya membantu Ibu menggoreng ikan, malah kecipratan minyak. Karena itu, Siska malas memasak hidangan utama. Lebih enak membuat kue, aman dari cidera. Pikirnya.
**
“Siska, hari minggu begini coba kamu bantuin Ibu memasak di dapur,” sahut Ayah tiba-tiba.
“Ayah, Siska kan sudah cukup mahir membuat aneka kue. Segala jenis kue basah seperti brownies, cheese cake sampai red velvet, Siska bisa. Kue kering, apalagi! Sudah cukup donk, Yah,” jawab Siska santai.
“Memang, Ayah akui kue buatan kamu uenaaakkk!” Ayah mengacungkan jempolnya. “Tapi paling tidak kamu bisa memasak lauk yang sederhana. Sop misalnya atau Ayam Jahe.”
“Oh, kalau itu mah gampang, Siska sudah bisa,” sahut Siska sesumbar.
“Serius kamu? Kebetulan tenggorokan Ayah sedikit gatal. Jadi hari ini Siska masakin Ayam Jahe buat Ayah, ya,” pinta Ayah senang.
Siska mengangguk. Ada Ibu, aku bisa tanya-tanya nantinya. Pikir Siska.
Tiba-tiba Ibu tergopoh-gopoh menghampiri Ayah.
“Ayah, Ibu pergi sebentar membesuk Bu Rini, barusan dapat kabar beliau kecelakaan Maaf, Ibu belum sempat memasak, nanti Ayah goreng telur saja, ya,” ucap Ibu.
“Tenang saja, Bu. Barusan Siska menyanggupi untuk memasakkan ayam jahe untuk Ayah. Bahan-bahannya ada semua, kan, Bu?” jawab Ayah.
“Kebetulan Ayam ada di kulkas, kalau bumbu dapur, sih, selalu komplit. Kamu yakin mau memasak, Sis?” tanya Ibu ragu.
Duh, bagaimana ini. Rutuk Siska dalam hati. Tapi gengsi ah, kalau batal. Hajar saja, masa si jago bikin kue nggak bisa masak makanan segampang Ayam Jahe.
“Yakin, Bu. Ibu tenang saja, serahkan pada chef Siska.”
**
Ayam sudah dikeluarkan dari freezer. Diambilnya baskom berisi air hangat, dimasukkan wadah ayam ke dalamnya. Beres. Sambil menunggu ayamnya lunak, siapkan bumbu dulu. Bumbu utama setiap masakan pasti bawang merah, bawang putih, garam dan merica. Karena namanya Ayam Jahe, pasti pake jahe! Tuh kan, aku bisa! Batin Siska senang.
Walauharus bolak-balik mengelap matanya dengan serbet dapur, akhirnya Siska berhasil mengiris si bawang merah. Bawang putih pun sudah digeprek dan dicacah halus. Tinggal mengiris jahe. Yang mana jahe? Duh, Siska bingung. Aha! Jahe berwarna putih dan baunya “sreng”. Tersisa dua macam bumbu dapur yang bercirikan seperti itu. Siska mengambil salah satunya.
Waktunya memasak. Bumbu-bumbu ditumis sampai harum, lalu masukkan rebusan ayam dan tambahkan garam dan merica. Tunggu sampai matang dan bumbu meresap.
**
“Bagaimana, Yah?”
Siska yakin Ayah akan memuji hasil masakannya. Bahan dan bumbu pas, nggak usah dicicipi juga sudah ketahuan enak.
“Ngg, kamu sudah mencobanya , Sis?” tanya Ayah
Siska menggeleng.
“Ini apa bulat-bulat?”
“Itu merica, Yah,” jawab Siska polos.
“Ya ampun, merica yang masih bulat harus kamu haluskan dulu, Sis! Dan lagipula ini rasanya bukan Ayam Jahe, tapi Ayam Kencur.” Kamu malah memasukkan kencur, bukannya jahe!”
Olala….(selesai)
Kamis, 06 Juli 2017
Rabu, 27 April 2016
Kantung Belanja ala Ruli
Bertambah lagi karyaku yang dimuat di kolom Nusantara Bertutur, di Klasika Kompas. Masa tunggu hanya 9 hari ^_^. Di saat galau karena selalu ditolak di salah satu majalah, berita dimuatnya ini cukup menjadi pelipur lara *tsah
Berikut naskahnya ^_^
**
Berikut naskahnya ^_^
**
Kantung Belanja
Ala Ruli
Oleh: Vina Maria. A
Di sebuah rumah di Kabupaten Humbang
Hasundutan, Sumatra Utara, tepatnya di Dolok Sanggul, Ruli dimintai tolong oleh
ibunya yang dipanggil Inong.
“Ruli, bisa tolong belikan telur di
warung?,” pinta Inong yang tengah menyetrika baju.
Setelah diberi uang oleh Inong, Ruli
bersiap pergi.
“Lho, Ruli tidak bawa kantong sendiri?”
tanya Inong.
“Ruli, kan, membeli telurnya di warung
bukan di minimarket. Di warung Amang Tagor, kantung belanjaan masih gratis,
kok, Inong,” jawab Ruli.
Inong menggeleng, “Bagaimana sampah
plastik akan berkurang jika begitu.”
Ruli pun berbalik ke dapur, mencari
kantung-kantung kain yang dibeli Inong sebagai pengganti kantung plastik. Tapi
tidak ada satu pun.“Inong, kantung kainnya tidak ada semua,” sahut Ruli.
“Ah, Inong lupa. Satu dibawa Among untuk
menyimpan baju ganti, sisanya di tetangga waktu bagi-bagi oleh-oleh kemarin.”
Inong memandang sekeliling. “Nah, pakai
ini saja.” Inong menyodorkan sebuah baskom ke tangan Ruli lalu kembali menyetrika
baju.
Ruli bengong. Apa kata teman-temannya
nanti jika melihatnya membawa telur dalam baskom. Untuk membawanya pun butuh
kedua tangan. Tapi perintah Inong tidak bisa ditolerir, apalagi maksud Inong
benar. Ruli pun ngeri melihat berita di televisi mengenai sampah plastik. Toh,
letak warung Amang Tagor tidaklah jauh.
Ah, Ruli punya ide supaya mudah membawa
baskom berisi telur itu. Ruli buru-buru masuk ke kamar Inong dan dengan asal,
Ruli menarik sehelai kain dari dalam lemari.
Sesampainya di warung, Ruli baru tahu
jika yang diambilnya ternyata kaus milik Among. Untung saja Among berbadan
besar. Ruli menaruh baskom berisi telur di tengah kaus dan mengikat setiap
sudutnya. Ruli pun dengan mudah membawanya.
Pelan-pelan Ruli memasuki rumah dan
bergegas menuju dapur. Di dapur ternyata ada Inong yang sedang minum.
Inong melihat tentengan di tangan Ruli.
“Maaf, Inong. Sebenarnya Ruli hendak
mengambil kain, tapi yang terambil malah kaus Among,” ucap Ruli pelan.
“Tapi ide kamu hebat, Ruli. Kaus
dijadikan tas.” Inong tersenyum.
Mendengar perkataan Inong, Ruli teringat
dengan artikel yang dibacanya di mading sekolah. Artikel tentang membuat tas
dari kaus bekas tanpa dijahit.
Ruli segera mengeluarkan kaus bekas
miliknya dan menggunting kedua lengannya. Bagian bawahnya pun digunting hingga
berumbai-rumbai. Lantas rumbai-rumbai itu diikat hingga menyatu. Tas daur ulang ala Ruli pun jadi.
“Wah, sekarang Inong tidak perlu lagi
membeli kantung kain,” seloroh Inong disusul dengan tawa mereka berdua. (selesai)
Dongeng Pertama di Majalah Bobo
Ini dia cerita pertamaku yang dimuat di Bobo. Cerita ini hasil dari kelas menulis Merah Jambu yang diasuh oleh Ibu Nurhayati Pujiastuti. Kebetulan yang pertama dimuat adalah tugas di minggu ke-2, materi dongeng yang khusus dibimbing oleh Bu Yuniar Khairani.
Karena ini naskah perdanaku di Bobo, jadi dua minggu sebelum terbit, pihak Bobo menelponku. Perasaanku? Wah, jelas seneng banget. Kelakuan pun jadi norak dan berlanjut sampai melihat penampakan naskahnya di Bobo.
Terharu banget, deh! Apalagi masa tunggu yang lama, 11 bulan!
Nah, ini dia dongeng pertamaku di Majalah Bobo ^_^
**
Karena ini naskah perdanaku di Bobo, jadi dua minggu sebelum terbit, pihak Bobo menelponku. Perasaanku? Wah, jelas seneng banget. Kelakuan pun jadi norak dan berlanjut sampai melihat penampakan naskahnya di Bobo.
Terharu banget, deh! Apalagi masa tunggu yang lama, 11 bulan!
Nah, ini dia dongeng pertamaku di Majalah Bobo ^_^
**
Gara-Gara Rufus si Kurcaci Kurir
Oleh : Vina Maria.A
“Aaaahh,
ya ampun!!” Peri Linzy berteriak, melihat telur yang dipecahkan di atas adonan
kuenya, busuk. Dicobanya lagi dengan sisa telur yang lain. Namun ternyata semua
telur di dalam keranjang, busuk! “Bagaimana ini? Padahal sudah tidak ada waktu
lagi,” pekiknya panik.
Cepat-cepat Peri Linzy menyiapkan
adonan yang baru lalu memanggangnya. Hasilnya, kue tersebut bantat, karena
dibuat tanpa telur. Peri Minzy pasti kecewa melihat kue pesanannya. Tapi mau
bagaimana lagi.
Ini
semua gara-gara Rufus, si kurcaci kurir yang selalu terlambat dalam mengantar
barang. Kali ini Rufus terlambat mengirim telur pesanan Peri Linzy.
Rufus memang bertugas untuk
mengantarkan barang. Kurcaci atau Peri yang ingin mengirim suatu barang, mereka
akan datang pada Rufus. Sebenarnya dalam satu hari, barang yang harus diantar
tidaklah banyak, hanya saja Rufus suka menunda-nunda pekerjaannya. Akibatnya
barang yang harusnya terkirim semua hari ini, masih tersisa.
“Ah,
masih bisa dikirim besok,” pikir Rufus. Begitu setiap harinya, sampai
barang-barang yang belum dikirim, menumpuk di rumah Rufus.
Pernah Rufus mendapat tugas
mengirimkan satu set benang ke rumah
Kurcaci Topito, kurcaci pembuat topi. Bibi Lulu Ulat berpesan, benang tersebut
harus dikirim secepatnya karena persediaan benang Kurcaci Topito hampir habis. Rufus
pun mengiyakan.
Tapi dalam perjalanan, Rufus
berkali-kali berhenti. Dia berlama-lama melihat jamur pelangi yang baru tumbuh,
bermain sebentar dengan anak bebek dan mengejar kupu-kupu. Sampai disadari hari
sudah siang. “Ah, rumah Kurcaci Topito jauh, besok saja aku mengantarnya.”
Akibatnya, topi buatan Kurcaci Topito berwarna
belang-belang, tak beraturan! Dia terpaksa memakai sisa benang yang ada, karena
keluarga Kiku Kucing sudah memerlukan topi tersebut untuk berlibur.
Banyak Kurcaci dan Peri yang dirugikan karena
keterlambatan Rufus. Sayangnya, hanya Rufus satu-satunya kurcaci kurir. Rufus
sudah sering ditegur, dinasehati bahkan sampai dimarahi kawan-kawannya. Tapi,
Rufus tetap saja santai dalam menjalankan tugasnya.
Suatu hari tersiar berita, bahwa
Ratu Peri akan mengadakan pesta musim panas di kebun istana. Semua Kurcaci dan
Peri bersiap-siap. Mereka menjahitkan baju terbaik, memesan sepatu terbaik dan
topi terindah untuk menghargai Ratu Peri.
Rufus juga mendengar berita tersebut
dan ikut mempersiapkan diri. Sementara Kurcaci dan Peri yang lain sudah tinggal
menunggu undangan resmi dari Ratu Peri, Rufus baru hendak menjahitkan bajunya,
memesan sepatu juga topi.
Undangan resmi dari Ratu Peri pun
tiba. Pengawal Ratu memberikan setumpuk undangan kepada Kepala Kurcaci untuk dibagi-bagikan.
Giliran rumah Rufus yang didatangi oleh Kepala Kurcaci.
Kepala Kurcaci mengetuk pintu dan membunyikan bel. Namun, Rufus tidak menjawab
apalagi membuka pintu rumahnya. Bukan karena Rufus sedang pergi mengantar
barang, tapi karena Rufus sedang asyik bermain gelembung udara di halaman
belakang. Padahal Rufus mendengar bunyi bel. "Tunggu sampai gelembungku
habis, baru aku bukakan pintu," pikir Rufus sambil terus bermain.
Jam
2 sore, Rufus baru selesai bermain. Betapa terkejutnya Rufus melihat amplop
undangan di bawah pintu. Dan lebih terkejut lagi, pestanya diadakan hari ini,
jam 4 sore.
Rufus
segera berlari menuju rumah Peri Quinzy. “Peri Quinzy, aku mau mengambil baju
pesananku.” Peri Quinzy segera mengambilkannya untuk Rufus. Tapi Rufus kaget,
“Peri Quinzy, kenapa kancing di bajuku belum terpasang?”
“Oh,itu karena pesanan kancingku belum datang,”
jawab Peri Quinzy santai. “Sudah ya, aku mau bersiap-siap ke pesta Ratu Peri.”
Peri Quinzy menutup pintu.
Rufus
lalu terburu-buru pergi menuju rumah Kurcaci Sola. “Kurcaci Sola, aku hendak
mengambil sepatu pesananku,” sahut Rufus sambil terengah-engah.
Kurcaci
Sola menyerahkan sepasang sepatu yang belum jadi pada Rufus, sambil berkata,
“Pesanan sol sepatu untukku belum datang, jadi aku tidak bisa menyelesaikan
sepatumu.”
Rufus kecewa melihat sepatunya.
“Bagaimana aku bisa pergi ke pesta Ratu Peri?”
Kali
ini Rufus mengetuk pintu Kurcaci Topito. Begitu melihat Rufus, Kurcaci Topito
langsung menyerahkan topi belang-belang pada Rufus. “Benang warna hijau
pesananku belum datang, aku memakai benang yang ada. Itu karena kurcaci kurir
selalu datang terlambat!”
Rufus
pulang ke rumahnya dengan gontai. Tidak mungkin Rufus pergi ke pesta Ratu Peri
dengan baju tanpa kancing, sepatu setengah jadi dan topi belang. Sesampainya
Rufus di rumah, matanya tertumbuk pada tiga buah paket yang harus dikirim dari
kemarin-kemarin. Badannya semakin lemas, begitu membaca alamat dari
masing-masing paket tersebut. Paket untuk Peri Quinzy, Kurcaci Sola dan Kurcaci
Topito. (Vin)
Minggu, 21 Februari 2016
Kisah si Pongo (dimuat di Kompas)
Taraaa! Ini dia, cernak pertama ku di Kompas. Selamat membaca ^_^
Ini versi aslinya, karena ada sedikit bagian yang diedit oleh Kompas.
***
Ini versi aslinya, karena ada sedikit bagian yang diedit oleh Kompas.
***
Kisah si Pongo
Oleh
: Vina Maria. A
Pongo
adalah anak Orangutan Sumatera, usianya baru menginjak lima tahun.
Setelah berusia enam tahun, barulah Orangutan
hidup mandiri. Pongo pun masih tinggal bersama Ibunya.
“Hoam,”
Pongo menguap sambil meregangkan tangannya. Enak sekali rasanya bangun tidur setelah
lelah bermain. Lho, Ibu belum pulang dari mencari makanan? Seharusnya tadi aku
ikut dengan Ibu. Gara-gara terlalu asyik bermain, aku malah tidur bukannya
belajar mencari makanan.
Tak
beberapa lama, Ibu Pongo pun datang. “Maaf, Ibu pulang terlambat. Ini Ibu bawa
pisang untukmu. Pongo pasti sudah lapar.”
Pongo
mengangguk. Tapi kenapa hanya pisang? Biasanya Ibu juga membawa rambutan,
manggis kadang durian. Ah, biarlah. “Ibu, kenapa lama mencari makanannya?” tanya
Pongo sambil mulutnya penuh dengan pisang.
“Kali
ini, Ibu harus berjalan agak jauh dari biasanya,” jawab Ibu Pongo.
**
Keesokan
paginya, sayup-sayup Pongo mendengar suara menderu. Suara apakah itu? Pongo
tidak pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya di hutan. Tiba-tiba
badannya diguncang-guncangkan oleh Ibu.
“Pongo,
Bangun! Kita harus segera pergi dari sini!” teriak Ibu.
Pongo
mengikuti saja perintah Ibu. Mereka pun keluar dari sarang dan mulai
bergelayutan dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Beberapa Orangutan juga
ikut berpindah tempat. Kini suara menderu yang Pongo dengar sebelumnya
berhenti, Pongo yang penasaran menoleh ke belakang. Sebuah pohon besar di ujung
sana, perlahan-lahan jatuh. Dan “bumm” suaranya sangat keras ketika menghantam
tanah. Pongo terlonjak kaget, kenapa pohon besar itu bisa tumbang?
“Ayo,
Pongo! Cepat!” teriak Ibu.
**
“Sepertinya
di sini aman.” Ibu Pongo lalu membuat sarang untuk mereka berdua.
“Ibu, kenapa kita harus cepat-cepat pindah? Lalu
kenapa pohon-pohon besar bisa tumbang?” tanya Pongo kemudian.
Ibu
menghela napas panjang, “Itu karena ulah manusia. Jika kita tidak segera
pindah, pohon yang kita tinggali juga akan tumbang. Lalu Ibu dan Pongo akan ditangkap oleh manusia.”
“Kenapa
mereka menebang pohon, Bu? Pohon kan bisa menghasilkan buah, menampung air,
buat udara sejuk, juga tempat Pongo bermain,” Pongo bingung.
Ibu
hanya menggeleng pelan.
Pongo
masih penasaran, “Lalu kenapa kita ditangkap manusia, Bu?”
“Entahlah,
yang Ibu tahu, mereka juga menangkap Harimau Sumatera dan Macan Tutul. Karena
itu, kita sudah jarang melihat mereka sekarang.” jawab Ibu sedih.
Berarti
manusia sangat kuat, Harimau Sumatera dan Macan Tutul saja bisa ditangkap oleh
mereka. Tapi, apakah semua manusia itu jahat? Pongo bertanya-tanya. Pongo
akhirnya pergi tidur. Dalam tidurnya, Pongo bermimpi makan beraneka macam
buah-buahan segar.
**
Sudah
beberapa hari ini Pongo hanya makan
dedaunan dan sedikit serangga. Karena banyak pohon ditebang, mencari
buah-buahan jadi semakin sulit. Mau tidak mau Pongo harus makan apa yang ada.
“Ibu,
kapan Pongo bisa makan buah-buahan lagi?” tanya Pongo.
“Ibu
juga belum tahu. Yuk, ikuti Ibu,” ajak Ibu.
Pongo
pun mengikuti Ibu yang memanjat sampai ke puncak pohon.
“Itu,
lihat di sana!” Ibu menunjuk ke sebelah kanan. Hutan tempat tinggal Pongo dulu,
kini menjadi hamparan tanah yang luas. Lalu Pongo menengok ke sisi lain di
belakang Pongo. Ada pepohonan di sana, walau tidak banyak. Tapi itu pohon
buah-buahan, Pongo mengenalinya.
“Itu,
Bu, di sana! Kita bisa mengambil makanan di sana!” Pongo berteriak kegirangan.
Ibu terdiam sejenak, “Itu perkebunan milik
manusia, Nak.”
**
Pongo
senang, Ibu berhasil dibujuk untuk mengambil makanan dari perkebunan manusia. Hanya
saja Pongo tidak boleh ikut. Pongo menatap buah-buahan di hadapannya lalu makan
dengan lahap.
Besoknya,
Ibu belum juga pulang dari mencari makanan, padahal hari sudah gelap. Pongo
panik, jangan-jangan terjadi apa-apa sama Ibu. Hari semakin larut, Pongo pun
tertidur.
Paginya,
Ibu masih belum pulang. Pongo nekat pergi
ke perkebunan untuk mencari Ibu. Sampai disana, Ibu tidak juga ditemukan. Pongo
malah melihat sosok manusia yang membawa benda panjang. Apa itu? “Dorr!” Pongo
kaget dan segera berlari ketakutan. Ah, lengan bagian atas Pongo sakit. Tapi
Pongo terus melesak masuk ke hutan. Rupanya lengannya terluka, diambilnya
selembar daun untuk menutupi lukanya. Dengan lengannya yang sakit, Pongo tidak
bisa memanjat pohon. Pongo terus saja berjalan sampai akhirnya tak sadarkan
diri.
**
Pongo
membuka matanya. Ada di mana ini? Dilihat luka di lengannya telah dibalut kain
putih. Lalu tak lama datanglah seorang manusia. Pongo ketakutan, tapi manusia
itu tersenyum ramah pada Pongo. Bahkan, menggendong Pongo dengan lembut, lalu
membawa Pongo keluar. Di luar, Pongo
melihat banyak pohon dan banyak Orangutan sedang bergelayutan dengan wajah
gembira.
Rupanya
saat ini, Pongo berada di tempat perlindungan Orangutan, tepatnya di Taman
Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara. (selesai)
Dibalik Kisah si Pongo
Setelah di akhir tahun kemarin, karyaku pecah telur di Nubi, awal tahun ini kembali cerpen anak karyaku muncul di media. Masih dimuat di koran Kompas, tapi bukan di kolom Nusantara Bertutur, melainkan di cerita anak Kompas. ^_^
Saya masih mengingat dengan jelas proses pembuatan naskahnya, karena memang berkesan di hati. Auw :D
Apalagi cerpen ini adalah cerpen pertama yang saya kirim ke Kompas dan langsung dimuat. Hehe
Dan juga fabel atau dongeng binatang pertama yang saya buat. Yeayy! Puji Tuhan ^_^
Cerpen ini saya buat ketika saya mengikuti kelas singkat menulis dongeng bersama Pak Bambang Irwanto. Masing-masing murid bebas menentukan dongeng apa yang mau ditulis, karena memang dongeng itu ada banyak jenisnya. Ada dongeng peri dan kurcaci, dongeng klasik, dongeng realis, dongeng binatang dan dongeng futuristik.Kurang dari satu minggu, kami harus menulis naskah dongeng kami.
Pada saat yang bersamaan, saya juga sedang mengikuti kelas menulis anak Merah Jambu di bawah asuhan Bu Nurhayati Pujiastuti. Saya ingat, kelas Merah Jambu sudah memasuki minggu ke-6 dan materi minggu ke-5 adalah materi bagaimana menulis sebagai sarana terapi untuk memulihkan perasaan sakit. Materi yang sulit buat saya, 2 cerpen anak yang saya buat tidak sempurna. Yang pertama nyawanya mirip dengan cerpen buatan Bu Guru, sedangkan yang ke-2 malah tidak bernyawa meskipun isi ceritanya bagus.
Nah, saya putuskan untuk menulis dongeng binatang. Binatang yang akan saya tulis adalah Orang Utan. Mulailah mem-browsing segala sesuatu tentang Orang Utan. Dan ilmu dari kedua kelas saya gabung, ilmu menulis dongeng dan ilmu terapi sakit hati. Sakit hati apa? Sakit hati karena miris melihat nasib Orang Utan yang semakin terancam oleh ulah manusia.
Tadinya saya hanya tahu Orang Utan itu cuma ada di Borneo, Kalimantan dan hanya ada satu jenis Orang Utan. Ternyata ada dua jenis, lho! Orang Utan kalimantan dan Orang Utan Sumatera. Status Orang Utan Kalimantan adalah langka, sedangkan status Orang Utan Sumatera lebih memprihatinkan, hampir punah! Jadi saya putuskan untuk menulis kisah Orang Utan Sumatera.
Saya mencoba memposisikan diri sebagai anak Orang Utan. Apa yang mereka rasakan ketika induk mereka tidak membawa pulang banyak makanan? Bagaimana perasaannya ketika pohon yang mereka tinggali tiba-tiba ditebang? Bagaimana reaksi Orang Utan menghadapi habitatnya yang hilang?
Setelah riset tercukupi, mulailah saya menulis. Walaupun yang saya tulis adalah dongeng, tapi riset tetap diharuskan. Bagaimana pun, dongeng itu harus tetap logis, karena para pembaca cilik adalah manusia yang cerdas dan kritis. Aneh, kan, jika saya menulis Orang Utan dengan setting di Hutan Amazon. Itu juga salah satu poin yang saya dapat dari kedua kelas menulis. ^_^
Begitu naskah selesai, naskah saya kirim ke email Pak Guru untuk diperiksa. Lalu beliau menandakan bagian mana yang harus diperbaiki atau yang masih janggal. Saya ingat, cuma tiga hal yang digaris bawahi. Dua tentang typo (salah ketik) dan terakhir soal ending. Kalau tidak salah di ending, ada 2 tokoh manusia bercakap-cakap untuk memberi tahu tempat si Pongo sekarang. Tapi menurut Pak Guru, narasi saja. Jangan ada percakapan manusia.
Begitu oke, Pak Guru menyarankan untuk mengirim ke Kompas. Saya sempat ragu dan meng-inbox beliau untuk menanyakan apakah Kompas menerima naskah dongeng? Ampuunn, deh, pake acara nggak percaya kata Pak Guru. hehe. Begitu dijawab 'iya', langsung, deh, kirim ke Kompas. Saya ingat hari itu tanggal 3 Juni 2015.
Akhirnya, setelah hampir 8 bulan menunggu, minggu tanggal 24 Januari 2016, saya di-inbox oleh Pak Bambang pagi-pagi. Saya langsung feeling, 'jangan-jangan si Pongo muncul hari ini?'. Eh, benar! Langsung jejingkrakan. Rasanya suenenge poolll :D
Saya masih mengingat dengan jelas proses pembuatan naskahnya, karena memang berkesan di hati. Auw :D
Apalagi cerpen ini adalah cerpen pertama yang saya kirim ke Kompas dan langsung dimuat. Hehe
Dan juga fabel atau dongeng binatang pertama yang saya buat. Yeayy! Puji Tuhan ^_^
Cerpen ini saya buat ketika saya mengikuti kelas singkat menulis dongeng bersama Pak Bambang Irwanto. Masing-masing murid bebas menentukan dongeng apa yang mau ditulis, karena memang dongeng itu ada banyak jenisnya. Ada dongeng peri dan kurcaci, dongeng klasik, dongeng realis, dongeng binatang dan dongeng futuristik.Kurang dari satu minggu, kami harus menulis naskah dongeng kami.
Pada saat yang bersamaan, saya juga sedang mengikuti kelas menulis anak Merah Jambu di bawah asuhan Bu Nurhayati Pujiastuti. Saya ingat, kelas Merah Jambu sudah memasuki minggu ke-6 dan materi minggu ke-5 adalah materi bagaimana menulis sebagai sarana terapi untuk memulihkan perasaan sakit. Materi yang sulit buat saya, 2 cerpen anak yang saya buat tidak sempurna. Yang pertama nyawanya mirip dengan cerpen buatan Bu Guru, sedangkan yang ke-2 malah tidak bernyawa meskipun isi ceritanya bagus.
Nah, saya putuskan untuk menulis dongeng binatang. Binatang yang akan saya tulis adalah Orang Utan. Mulailah mem-browsing segala sesuatu tentang Orang Utan. Dan ilmu dari kedua kelas saya gabung, ilmu menulis dongeng dan ilmu terapi sakit hati. Sakit hati apa? Sakit hati karena miris melihat nasib Orang Utan yang semakin terancam oleh ulah manusia.
Tadinya saya hanya tahu Orang Utan itu cuma ada di Borneo, Kalimantan dan hanya ada satu jenis Orang Utan. Ternyata ada dua jenis, lho! Orang Utan kalimantan dan Orang Utan Sumatera. Status Orang Utan Kalimantan adalah langka, sedangkan status Orang Utan Sumatera lebih memprihatinkan, hampir punah! Jadi saya putuskan untuk menulis kisah Orang Utan Sumatera.
Saya mencoba memposisikan diri sebagai anak Orang Utan. Apa yang mereka rasakan ketika induk mereka tidak membawa pulang banyak makanan? Bagaimana perasaannya ketika pohon yang mereka tinggali tiba-tiba ditebang? Bagaimana reaksi Orang Utan menghadapi habitatnya yang hilang?
Setelah riset tercukupi, mulailah saya menulis. Walaupun yang saya tulis adalah dongeng, tapi riset tetap diharuskan. Bagaimana pun, dongeng itu harus tetap logis, karena para pembaca cilik adalah manusia yang cerdas dan kritis. Aneh, kan, jika saya menulis Orang Utan dengan setting di Hutan Amazon. Itu juga salah satu poin yang saya dapat dari kedua kelas menulis. ^_^
Begitu naskah selesai, naskah saya kirim ke email Pak Guru untuk diperiksa. Lalu beliau menandakan bagian mana yang harus diperbaiki atau yang masih janggal. Saya ingat, cuma tiga hal yang digaris bawahi. Dua tentang typo (salah ketik) dan terakhir soal ending. Kalau tidak salah di ending, ada 2 tokoh manusia bercakap-cakap untuk memberi tahu tempat si Pongo sekarang. Tapi menurut Pak Guru, narasi saja. Jangan ada percakapan manusia.
Begitu oke, Pak Guru menyarankan untuk mengirim ke Kompas. Saya sempat ragu dan meng-inbox beliau untuk menanyakan apakah Kompas menerima naskah dongeng? Ampuunn, deh, pake acara nggak percaya kata Pak Guru. hehe. Begitu dijawab 'iya', langsung, deh, kirim ke Kompas. Saya ingat hari itu tanggal 3 Juni 2015.
Akhirnya, setelah hampir 8 bulan menunggu, minggu tanggal 24 Januari 2016, saya di-inbox oleh Pak Bambang pagi-pagi. Saya langsung feeling, 'jangan-jangan si Pongo muncul hari ini?'. Eh, benar! Langsung jejingkrakan. Rasanya suenenge poolll :D
Sabtu, 02 Januari 2016
Cerpen Kedua di Kompas Klasika Nusantara Bertutur
Kyaaa... ternyata cerpen saya kembali dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur. Dari empat tema bulan Desember yang Nubi minta, saya memang mengirim dua naskah untuk dua tema. Yang pertama, tema Hari Ibu dan tema kedua yang saya kirim, tema Hari Natal.
Puji Tuhan, kedua-duanya lolos, sehingga bisa mejeng di Kompas Klasika Nusantara Bertutur untuk 2 minggu berturut-turut. Akhir tahun yang manisss, khususnya buat saya yang baru belajar menulis ;)
Terima kasih, ya, Nubi (Nusantara Bertutur)...ilustrasinya pun saya suka ^_^
Berikut cerpen saya di Nubi dengan tema Hari Natal, berjudul 'Arti Natal'. Semoga bermanfaat, ya, teman-teman. Terima kasih sebelumnya :)
Puji Tuhan, kedua-duanya lolos, sehingga bisa mejeng di Kompas Klasika Nusantara Bertutur untuk 2 minggu berturut-turut. Akhir tahun yang manisss, khususnya buat saya yang baru belajar menulis ;)
Terima kasih, ya, Nubi (Nusantara Bertutur)...ilustrasinya pun saya suka ^_^
Berikut cerpen saya di Nubi dengan tema Hari Natal, berjudul 'Arti Natal'. Semoga bermanfaat, ya, teman-teman. Terima kasih sebelumnya :)
Arti
Natal
Oleh:
Vina Maria A
“Bu, kapan kita membeli
baju baru untuk Misa Natal besok?” tanya Kinar pada Ibu yang sedang mengiris
daun bawang.
Ibu
menghela napas. “Natal kali ini, Kinar tidak membeli baju baru dulu, ya. Ibu
sama Bapak baru saja melunasi biaya studi wisata kamu dan kakakmu. Baju Kinar juga
banyak dan masih bagus-bagus, kan?”
“Tapi,
Bu, teman-teman Kinar pasti memakai baju
baru. Kinar malu, nanti Kinar sendirian yang pakai baju lama,” rajuk Kinar.
“Lho,
memangnya kalau Misa nanti, kalian akan berisik meributkan baju baru bukannya khusyuk
berdoa?” tanya Ibu.
“Ah,
Ibu kuno!” Kinar meninggalkan Ibu lalu pergi bermain.
**
Kinar
sudah membayangkan sebuah gaun cantik berwarna
merah. Bila dipakai sambil berputar, roknya akan megar seperti gaun puteri
kerajaan. Tapi, Ibu malah tidak mau membelikannya. Kalau tidak memakai baju
baru bukan Natalan namanya, pikir Kinar.
Dari
jauh, Kinar melihat Sasa teman sekelasnya. Sepertinya dia membawa banyak sekali
kertas kado. Tapi buat apa?
“Sasa,
main yuk!” Kinar melambaikan tangannya pada Sasa.
Sasa
pun menghampiri Kinar, “Maaf, Kinar. Hari ini aku ada tugas penting, jadi tidak
bisa bermain dulu. Atau kamu mau membantu aku?” ajak Sasa.
“Membantu apa?” tanya Kinar
penasaran.
“Nanti
kamu juga akan tahu, yuk!” Sasa segera mengamit tangan Kinar.
**
Di
ruang tamu Sasa berserakan berbagai macam peralatan sekolah, beberapa kotak
makan dan tempat minum.
“Tolong
bantu aku membungkus kado, ya,” pinta Sasa.
“Untuk
siapa kado sebanyak ini, Sa?” tanya Kinar.
“Tiap
Hari Natal, aku menyumbang kado ke Panti Asuhan. Ini hasil dari tabunganku
sendiri selama satu tahun, lho,” ujar Sasa bangga.
Kinar
mengambil sebuah kotak pensil lalu membungkusnya. “Kamu sudah beli baju baru
buat Misa besok, Sa?” Kinar kembali teringat dengan masalahnya.
Oh,
aku nggak beli baju baru. Kasihan Ayah
dan Ibuku baru membayar biaya studi wisata yang tidak sedikit,” jawab Sasa.
Memang studi wisata ke Batu, Malang untuk 3 hari 2
malam, biayanya tidak sedikit, pikir Kinar. “Tapi kamu kan punya tabungan, Sa.
Kenapa dihabiskan untuk membeli kado-kado ini? Padahal bisa untuk membeli baju
baru.”
Sasa
tersenyum. “Bajuku masih banyak yang bagus kok. Ayahku juga pernah bilang bahwa
arti Natal yang sesungguhnya adalah berbagi dengan sesama dan kebersamaan bukan
sekadar baju baru. Aku masih bisa merayakan Natal bersama Ayah dan Ibu,
sementara mereka anak-anak yatim piatu. Tapi bukan berarti nggak boleh memakai
baju baru di hari Natal, lho.”
Kinar
jadi malu mendengarnya. Bukannya bersyukur masih bisa merayakan Natal bersama keluarganya,
malah meributkan baju baru. Natal tanpa Ayah dan Ibu, pasti rasanya sepi
sekali.
“Sa,
aku boleh ikut ke panti asuhan nggak?” tanya Kinar.
“Boleh
dong!” jawab Sasa.
“Natal
tahun depan, aku juga menyumbang kado ya, Sa,” sahut Kinar lagi.
Sasa
mengangguk senang. (Vin)
**
Cerpen Pertama di Media : Kompas Klasika Nusantara Bertutur
Hore! Akhirnya pecah telur juga.. Untuk pertama kalinya saya merasakan bagaimana senangnya melihat karya saya dimuat di media. Uhuyy ^_^
Karya pertama ini, dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi 20 Desember 2015. Mengambil tema sesuai jadwal yang dikeluarkan oleh Nubi (Nusantara Bertutur) yaitu Hari Ibu, dengan judul 'Ibuku Sayang Ibuku Cerewet'.
Bagi teman-teman yang ingin membacanya, silahkan.. Ini versi aslinya, sebelum diedit. Terima kasih sebelumnya ^_^
Karya pertama ini, dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur edisi 20 Desember 2015. Mengambil tema sesuai jadwal yang dikeluarkan oleh Nubi (Nusantara Bertutur) yaitu Hari Ibu, dengan judul 'Ibuku Sayang Ibuku Cerewet'.
Bagi teman-teman yang ingin membacanya, silahkan.. Ini versi aslinya, sebelum diedit. Terima kasih sebelumnya ^_^
Ibuku Cerewet Ibuku Sayang
Oleh: Vina
Maria.A
Hari ini Naya malas
pulang. Habisnya Ibu terlalu mengatur. Pagi-pagi sudah cerewet menyuruh segera mandi.
Sarapan harus dikunyah pelan-pelan dan harus habis. Pulang sekolah, Ibu cerewet
menyuruh Naya ganti baju, cuci tangan dan kaki, makan siang, bikin PR. Huh,
padahal santai sebentar menonton televisi kan tidak apa-apa. Nanti juga
dilakukan, gerutu Naya.
Kali ini Naya mau
pulang terlambat. Biar saja sekalian Ibu marah. Naya membelokkan sepedanya ke
Solo City Walk. “Rasanya tenang sekali
tidak mendengar omelan Ibu,” gumam Naya seraya bersepeda melintasi pepohonan.
Tiba-tiba gerimis
turun. Naya bergegas mengayuh sepedanya. Tapi hujan malah bertambah deras,
terpaksa Naya berteduh di depan sebuah toko batik.
Sudah setengah jam
lebih, hujan belum juga reda. Perut Naya sudah berbunyi, tanda minta diisi.
Naya juga kedinginan. Brrr..,
Tak lama Ibu datang
dengan membawa payung. “Naya! Syukurlah, kamu disini.” Ibu mengeluarkan jas
hujan dari tas keresek hitam di tangannya. “Pakai ini,” ujar Ibu sambil memakaikannya
ke badan Naya.
Tangan Ibu yang satu
menuntun sepeda Naya, tangan satunya lagi memegang payung untuk menaungi mereka.
Tapi hujan turun dengan lebat disertai angin, membuat Ibu tetap kebasahan.
Sampai di rumah, Ibu
segera memasak air hangat untuk Naya mandi.
“Hachii!” Ibu bersin.
“Makan dulu supnya selagi hangat,” seru Ibu. “Hachii!” Ibu bersin lagi.
**
Besoknya, Naya bangun
kesiangan. Seruan Ibu yang biasanya membangunkan Naya tidak kedengaran. Selesai
mandi, Naya menuju ke meja makan untuk sarapan. Tapi hanya ada Bapak di situ.
“Ibu mana, Pak?” tanya
Naya.
“Semalaman Ibu demam, menjelang
subuh baru bisa tertidur.” Bapak beranjak dari kursinya. “Jangan lupa sarapan,
Bapak sudah buatkan nasi goreng. Nanti siang Bapak pulang mau mengantar Ibu ke
dokter.”
Ibu pasti sakit karena
kehujanan kemarin. Naya lalu menyantap nasi gorengnya dengan terburu-buru. Naya
tidak mau terlambat.
**
Naya masuk ke kelas
berbarengan dengan bel tanda masuk
berbunyi. Tak lama, Pak Joko pun masuk.
“Anak-anak, silahkan
keluarkan PR matematika kalian,” ujar Pak Joko.
Ya ampun, Naya lupa. Semalam
Naya ketiduran. Akibatnya Naya dihukum berdiri di depan kelas. Malu sekali
rasanya. Apalagi ini pertama kalinya Naya kelupaan tidak mengerjakan PR.
Tiba-tiba Naya
merasakan perutnya melilit. Pasti karena tadi sarapan dengan terburu-buru, batin
Naya.
Naya tercenung.
Biasanya Ibu yang mengingatkan dan memeriksa PR-nya. Ibu juga yang
membangunkannya pagi-pagi. Ibu sakit semua jadi berantakan. Ibu sakit juga
gara-gara Naya.
Sekarang Naya paham, Ibu
bukannya cerewet tapi peduli. Pulang sekolah nanti Naya harus minta maaf pada
Ibu dan berterimakasih untuk kebaikannya selama ini. (Vin)
**
Langganan:
Postingan (Atom)






