Kamis, 06 Juli 2017

Nodin si Angin kecil

Senengnya si Nodin dimuat di Majalah Bobo. Ini juga dongeng kesukaan kesayangan.



Nodin si Angin Kecil
Oleh: Vina Maria.A
           
Akhirnya hujan lebat berhenti juga. Nodin si angin kecil keluar dari rumahnya di antara dedaunan pohon Cemara Angin.
“Hmm, aku selalu suka aroma tanah setelah hujan,” gumam Nodin. “Waktunya beraksi!” seru Nodin riang.
Dari jauh tampak Kakek Timo baru saja keluar dari rumahnya. Nodin tersenyum jahil. Whuss, Nodin berlari kencang ke arah Kakek Timo. Lebih tepatnya menuju kepala Kakek. Walhasil, rambut Kakek Timo yang sudah tersisir rapi menjadi berantakan dan jatuh ke bawah. Ups, rupanya selama ini Kakek Timo memakai wig alias rambut palsu untuk menutupi kepalanya yang botak. Malangnya, wig itu jatuh ke tanah yang becek. Kakek Timo pun masuk kembali ke rumahnya sambil menenteng wig yang kotor.
Dari balik pohon, Nodin tertawa keras sampai berguling-guling. “Itu, lucu sekali! Aku akan mencari mangsa yang lain, ah.”
Matahari mulai menampakkan diri sehabis hujan. Orang-orang mulai beraktifitas kembali. Nodin melihat Nenek Berta yang sedang menjemur pakaian. Niat iseng Nodin pun muncul. Nodin mengitari jemuran Nenek Berta dengan kencang. Pakaian-pakaian Nenek yang masih basah pun berjatuhan. Akibatnya Nenek Berta harus mencuci ulang semua pakaiannya.
Nodin terkekeh geli, “Wajah Nenek yang kebingungan sangat lucu. Ah, sekarang aku mau mengganggu Pak Bandi.”
Pak Bandi sedang menjalankan tugasnya menyapu jalan. Biasanya, Pak Bandi akan mengumpulkan daun-daun kering di satu tempat, sebelum memasukkannya ke tempat sampah.
Nodin siap beraksi. Jika Pak Bandi sedang menyapu di sebelah kiri, Nodin akan mengacak-acak daun-daun yang sudah terkumpul di sisi kanan. Begitu seterusnya hingga Pak Bandi kelelahan dan duduk sejenak.
Nodin tak tahan lagi, dia berlari ke atas pohon kelapa lalu tertawa sampai berguncang-guncang. Daun-daun pohon kelapa pun ikut bergoyang.
“Kamu sudah keterlaluan, Nodin!”
Nodin berhenti tertawa.
Rupanya Dewa Angin yang datang. “Setiap hari kerjamu hanya berbuat usil. Kamu telah banyak merugikan manusia!” Suara Dewa Angin menggelegar.
“A..aku hanya ingin bersenang-senang,” sahut Nodin dengan suara pelan.
Dewa Angin melotot,” Bersenang-senang?! Sakit pinggang Nenek Berta kambuh karena dia harus mencuci ulang pakaiannya. Lihat Pak Bandi sampai kelelahan!”
 “Tapi Kakek Timo, kan, masih bisa keluar rumah tanpa memakai wignya.” Nodin masih saja berusaha membela dirinya.
Dewa Angin semakin geram mendengarnya. Dia berputar-putar kencang, menyebabkan badai angin di desa. Tapi buru-buru dihentikannya, sebelum kerusakan terjadi.  “ Kakek Timo hendak mengunjungi pesta ulang tahun cucunya. Cucunya ini takut dengan kepala botak Kakek.”
Nodin tertunduk sedih.                                                                                                        
 “Si cucu menangis karena Kakeknya tidak datang dan Kakek Timo tak kalah sedih,” lanjut Dewa Angin.
Nodin tak menyangka jika ulahnya yang selama ini disangka lucu malah merugikan manusia. Nodin kira mereka yang diisengi akan maklum. Ternyata akibat yang sangat fatal harus dialami oleh Nenek Berta, Pak Bandi dan Kakek Timo.
“Ta..tapi, Dewa Angin? Aku hanyalah angin kecil yang tak berguna. Aku tak sekuat angin darat dan angin laut yang sanggup membantu nelayan berlayar. Aku juga tak  sanggup menjalankan kincir angin,” sahut Nodin lemah.
“Hmm, jadi karena itulah kamu bertingkah iseng?” tanya Dewa Angin.
Nodin mengangguk.
“Mulai besok, kamu bisa membantu penyerbukan di ladang jagung juga di padang rumput yang penuh dengan bunga Dandelion. Kamu hanya perlu berlari sepuasnya,” jelas Dewa Angin.
Setelah Dewa Angin kembali ke Istananya, Nodin pun bergegas turun. Di bawah, Pak Bandi sudah kembali menyapu. Kali ini, Nodin membantu Pak Bandi dengan mengumpulkan dedaunan kering di satu tempat. Pak Bandi pun bisa pulang ke rumah lebih awal.
Lalu, Nodin segera menuju ke rumah Nenek Berta. Nenek Berta baru saja menjemur kembali pakaiannya. Nodin bergerak perlahan mengitari pakaian-pakaian tersebut. Sinar matahari ditambah hembusan Angin Nodin, pakaian Nenek Berta menjadi cepat kering. Nenek Berta pun sangat senang.
Di jalan, Nodin bertemu dengan Kakek Timo. Kakek Timo mengenakan wignya yang masih agak basah.
“Dia pasti hendak mengunjungi cucunya,” pikir Nodin.
Nodin menemani perjalanan Kake Timo sambil berhembus perlahan ke wig Kakek. Wig Kakek menjadi kering dan sepanjang perjalanan, Kakek juga tidak kepanasan. Nodin pun lega melihat Kakek Timo sudah kembali bertemu dengan cucunya.
 “Selesai juga. Besok aku akan menjadi angin yang berguna bagi penduduk desa, “gumam Nodin.
Esok paginya Nodin berlari-lari riang di sepanjang ladang jagung. Berkat Nodin, jagung-jagung bisa berbuah dan hasil panen melimpah. Berkat Nodin pula, bunga Dandelion bertambah banyak dan bermekaran, menambah indah pemandangan. Anak-anak kecil yang berlarian di padang pun senang berkat Nodin, mereka tidak kepanasan.
Nodin si angin kecil sangat bahagia karena dirinya berguna. Apalagi, dia tetap bisa berlari sepuasnya tanpa harus merugikan penduduk desa. (selesai)

Ryza dan Nasi

Kangen dimuat di Nubi. Jadi langsung membulatkan tekad untuk menulis. Waktu itu temanya tentang 'menghargai'. Belum ada ide langsung nangkring di depan lepi. Tangan meraba-raba buku apa saja untuk memantik ide. Dapat buku peajaran anak. hehe..
Dan lahirlah cerita ini. Puji Tuhan langsung dimuat.
Yah, kadang kita memang harus memaksa kita untuk tetap menulis. Seorang penulis..bahkan banyak penulis pernah berkata kalau menulis itu bukan bergantung pada mood. Setuju, kan?! ;)
**

Ryza dan Nasi 

Sudah dua hari Ryza menginap di rumah Kakek dan Nenek, di Ciracap, Sukabumi, Jawa Barat dalam rangka libur sekolah. Sudah dua hari juga Nenek mendapati nasi tersisa di piring Ryza.
“Kenapa tidak dihabiskan, Za?” tanya Nenek.
“Ryza kenyang, Nek,” jawab Ryza santai.
Esoknya, Nenek melihat Ryza hendak membuang sisa nasi ke tong sampah.
“Jangan! Itu bisa dikasih ke ayam peliharaan Kakek,” cegah Nenek, “Sebaiknya makan itu harus dihabiskan. Sayang nasinya,” nasehat Nenek.
Ryza hanya mengangguk. Membuang sedikit nasi tentu tidak masalah. Pikir Ryza. Lagipula Ryza malas kalau harus menyendokkan nasi berulang-ulang ke piringnya. Lebih praktis mengambil sekaligus banyak.
“Ryza, ikut Kakek, yuk,” ajak Kakek.
Ternyata Kakek mengajak Ryza  melihat sawah milik Kakek. Kening Ryza berkerut.  Untuk apa Kakek membawanya kemari? Di depan Ryza ada seorang petani yang sedang membajak saawah.
“Kamu tahu apa yang dilakukan petani usai membajak sawah?” tanya Kakek.
Ryza berpikir sejenak, ”Menanam padi, Kek.”
Kakek menggeleng, “Setelah ini, sawah diari dan didiamkan seminggu, digaru lalu diulang kembali prosesnya dari membajak. Karenanya memakan waktu sampai dua minggu.”
Ryza mulai penasaran. “Supaya apa, Kek?”
“Menjegah tumbuhnya gulma,” jelas Kakek.
Lalu mereka berjalan lagi. Ryza sempat melihat dua orang petani sedang menanam padi sambil berjalan mundur. Tibalah mereka di hamparan sawah yang menguning. Kakek memetik satu bulir padi dan menaruhnya di telapak tangan Riza.
“Di dalamnya ada beras yang biasa dimasak Ibumu dan Nenek. Coba kamu buka!” perintah Kakek.
Ryza mencobanya. Ugh! Keras sekali. Ryza menyerah.
“Mari, Kakek tunjukkan caranya,” undang Kakek.
Mereka sampai di tempat dimana beberapa petani tengah memukul-mukul batang padi.
“Mereka sedang memisahkan gabah dari batangnya yang sebelumnya telah dijemur selama seminggu,” terang Kakek.
Ryza menelan ludah. Dia tidak mengira nasi yang dibuangnya harus melewati proses yang panjang.
“Setelah ini, sudah jadi beras, Kek?” tanya Ryza.
Kakek menggeleng. “Harus dikeringkan kembali baru digiling agar gabah benar-benar terpisah dari beras.”
“Itu pun harus dimasak dahulu baru bisa dimakan.” Ryza menunduk malu.  “Ternyata prosesnya panjang sekali, ya, Kek. Ryza baru tahu.”
Kakek memeluk bahu Ryza. “Karena itulah Kakek mengajakmu kemari, supaya kamu tahu bagaimana sulitnya menanam padi itu.”
“Padahal Ryza suka sekali membuang-buang nasi dan makanan-makanan lain,” sesal Ryza.
“Kamu tahu nama depanmu diambil darimana?” selidik Kakek.
Ryza tak mengerti maksud Kakek. “Oryza, Kek?”
“Diambil dari kata Oryza Sativa, itu nama latin dari tumbuhan padi, lho.” Kakek mengedipkan matanya.
Mata Ryza membulat, “Wah, keren! Mulai sekarang Ryza tidak akan membuang-buang nasi lagi, Kek.”
“Bagus! Kita memang harus menghargai kerja keras para petani.” Kakek mengacungkan jempolnya.
“Dan juga Nenek yang sudah memasaknya,” celetuk Ryza yang disambut dengan tawa Kakek. (vin)

Memanen Berry

Ini salah satu naskah dongeng favoritku. Pendek, hanya satu halaman di Majalah Bobo. Tapiii risetnya gak sependek itu. Begitulah, di balik kesederhanaan sebuah karya selalu ada kerja keras di baliknya *bijak-mode-on ^ ^
***



Memanen Berry

Musim panas tiba, waktunya memanenberry. Semua jenis berry akan berbuah serentak. Ladang berry menjadi berwarna dengan adanya strawberry, raspberry, blackberry, blueberry, cranberry, redberry, mulberry, bilberry, huckleberry dan elderberry.
“Aku tidak sabar menunggu datangnya besok. Buah berry apa yang akan aku petik?” ujar kurcaci Topsy.
“Aku akan memetik blueberry. Aku mau membuat kue tart dengan selai blueberry, pasti lezat,” sahut kurcaci Lipsy sambil memegang perutnya.
“Sudah lama aku tidak memakan kue pai raspberry, jadi besok aku akan memetik raspberry.” Kurcaci Belsy tak mau kalah.
Kurcaci Topsy masih memikirkanjenis buah berry apa yang akan dia petik besok. Setiap kurcaci ditugaskan untuk memetik satu jenis buah berry, karena waktu memetik yang hanya sehari. Dari tujuh keranjang penuh berisi buahberry, mereka boleh membawa pulang satu keranjang. Sisanya akan disimpan di dapur utama sebagai persediaan selama satu tahun bagi para kurcaci.
**
Denting lonceng berbunyi. Para kurcaci langsung memasuki ladang berry. Kurcaci Lipsy memetik blueberry dengan cekatan. Kurcaci Belsy bahkan telah mengumpulkan setengah keranjang raspberry.
“Aku bingung mau memetik apa, semua buah berry aku suka.” Kurcaci Topsy belum juga memetik.
“Cepat tentukan! Nanti kita dapat berbagi hasil panen kita,” sahut Kurcaci Popsy, tangannya terus bergerak memetik bilberry.
Ah, benar juga! Kurcaci Topsy memutuskan untuk memetik strawberry. Tapi belum juga keranjangnya penuh, dia sudah mengeluh. “Aduh, pinggangku sakit. Sebentar berjongkok, berdiri dan menunduk bergantian. Lebih baik aku memetik berry yang pohonnya tinggi.”
Kurcaci Topsy berlari menuju pohon mulberry. Baru sebentar saja, lagi-lagi dia mengeluh. “Lelah sekali berpindah dari dahan yang satu ke dahan yang lain sambil memegang keranjang. Aku turun saja.”
Kurcaci Topsy ganti memetik elderberry. ‘Aku tidak perlu memanjat,’ pikirnya. Semak belukar elderberry sangat lebat setinggi enam meter. Bisa ditebak, Kurcaci Topsy kembali mengeluh, “Uh, memetik elderberry ternyata sulit juga, yang lain saja!”
Sementara kurcaci Topsy baru mulai memetik cranberry, kurcaci Lipsy sudah berhasil memetik tujuh keranjang blueberry. Begitu juga dengan kurcaci Belsy, telapak tangannya sampai kemerahan karena raspberry.
Lonceng kembali berdenting, waktu memetik pun usai. Para kurcaci bertepuk tangan. Kurcaci Topsy hanya mendapat tiga keranjang cranberry. Selain waktunya habis, beberapa kurcaci lain sudah  duluan memetiknya. Dia pun pulang dengan tangan hampa.”Sudah lelah, tapi aku tidak mendapat apa-apa,” keluh kurcaci Topsy.

Kalau menurut kalian, apa yang salah dari kurcaci Topsy, ya?(Vin)

Ganjaran Untuk Kurcaci Polly




Ganjaran Untuk Kurcaci Polly
oleh: Vina Maria.A
Kurcaci Polly tersenyum puas menatap rumput di halaman rumah Kakek Thomas yang telah dipangkasnya.“Ah, akhirnyaselesai juga.”
Tiba-tiba, “Buk..,” sebuah apel jatuh tepat di depan kakinya. 
Polly mendongakan kepalanya ke atas.“Rupanya apel-apel Kakek Thomas sudah banyak yang matang.”
Menjelang makan siang, Kakek Thomas keluar, “Polly, ayo kita makan siang bersama.”
Kurcaci Polly menghampiri Kakek Thomas dengan sekeranjang penuh apel segar. “Ini aku bantu memetiknya, Kek. Apel-apel Kakek sudah banyak yang matang, sayang bila tidak segera dipetik.”
“Wah, terimakasih Polly. Aku memang hanya bisa memungut apel yang jatuh, walau kadang bentuknya sudah agak hancur.” Kakek Tobi terkekeh memamerkan deretan giginya yang masih utuh.
**
Keesokan harinya, kurcaci Polly betugas untuk membersihkan cerobong asap di rumahNenek Angela. Sesampainya di sana, Nenek Angela hendak pergi mengunjungi cucunya di desa sebelah.
“Kau datang tepat waktu, Polly. Bila kau sudah selesai, tolong kunci pintunya dan taruh kuncinya di balik keset. Mungkin aku pulang menjelang sore,” sahutNenekAngella.
Kurcaci Polly mengangguk, “Baik, Nek. Jangan khawatir.”
Begitu NenekAngella pergi, Polly bergegas membersihkan cerobong asap milik Nenek Angela. Jelaga-jelaga hitam mulai beterbangan, membuatmatanya pedih dan memerah. Polly pun kadang terbatuk-batuk. Tapi Polly tetap melakukan tugasnya.
Setelah cerobong asap bersih, Polly menyapu lantai yang menghitam akibat debu dari cerobong asap. Lantai kayu Nenek Angela pun dipelnya hingga mengkilat. Sebenarnya bisa saja Polly langsung pulang. Toh, tugasnya hanya untuk membersihkan cerobong asap. 
**
“Polly, kau bisa memberbaiki kursi goyangku yang patah?” Kurcaci Delly datang ke kediaman Polly sambil membawa kursi goyangnya yang rusak.
Kurcaci Polly mengangguk.“Tentu bisa.”
“Kalau begitu, aku akan mengambilnya minggu depan. Terima kasih, Polly.” Kurcaci Delly pun pamit.
Untung saja persediaan kayu milik kurcaci Polly masih banyak. Setelah sibuk mengukur, memotong, menghaluskan dan memaku, kursi goyang Kurcaci Delly pun selesai diperbaiki.
Polly mengoyang-goyangkannya untuk memastikan kekokohannya. “Sudah cukup kuat, sayang warnanya kusam. Oh, Kurcaci Delly menyukai warna biru,” pekik Polly senang. 
Polly mengambil kaleng cat warnab iru.
**
Sudah dua hari,tidak ada yang datang atau memanggil kurcaci Polly untuk mengerjakan sesuatu. Ah, mungkin besok ada pekerjaan untukku. Pikir Polly.
Ternyata keesokan harinya juga masih sama. Polly memutuskan untuk pergi. 
“Siapa tahu di jalan ada yang membutuhkanku,” ucap Polly pelan.
Polly melintas di depan rumah KurcaciTelly. Biasanya tiap satu minggu sekali, kurcaci Telly memintaku membersihkan kandang ayam.Mungkin kali ini dia lupa.
“Telly, apa kau membutuhkan bantuanku untuk membersihkan kandang ayam?” tanya Polly.
Kurcaci Telly menggeleng. “Tdak, Polly, terima kasih. Aku sudah membersihkannya sendiri.”
Walau kecewa, Polly tetap tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya. Sampai di depan rumah Kakek Thomas, Polly tertegun melihat rerumputan yang telah rapi. 
“Siapa yang sudah memotong rumputnya?” tanya Polly.
Polly kembali menawarkan bantuan kepada siapa saja yang dijumpainya. Tapi tidak ada satupun yang membutuhkannya.
Polly duduk di bawah pohon Willow untuk beristirahat sejenak. Persediaan makanan di dapur sudah menipis. Begitu juga dengan minyak untuk lenteranya. Polly tidak bisa membayangkan bila besok belum juga ada pekerjaan untuknya.
Polly yang kelelahan sampai tertidur dan terbangun ketika hari sudah sore. 
“Ya, ampun, hari sudah sore, aku harus segera pulang.” Polly mengayunkan kakinya menuju ke rumah.
Tapik enapa di halaman depan rumahnya banyak sekali orang? Seperti ada pesta. Polly bertanya-tanya.
“Selamat Ulang Tahun, Polly,” seru teman-teman Polly. Rupanya mereka merancangkan pesta kejutan untuk Polly.
Polly sendiri sampai lupa dengan hari ulang tahunnya, karena sibuk mencari pekerjaan.
“Ini upah untuk membersihkan kandang ayamku, Polly.” Kurcaci Telly menyerahkan amplop berisi uang ke tanganTelly.
Begitu juga dengan Kakek Thomas.  “Ini upah untuk memotong rumputku.”
Polly bingung menerima itu semua. “Tapi bukan aku yang membersihkan kandang ayam dan memotongrumputnya.”
Kakek Thomas mengangguk, “Tiga hari ini kami sengaja memberimu waktu untukberistirahat.”
“Sebagai hadiah ulang tahun untukmu, Polly,” sahut Kurcaci Delly.
“Tapi ini berlebihan. Belum lagi pesta ulang tahunnya.” Mata Polly mulai berkaca-kaca.
Nenek Angella menggeleng, “Kamu pantas mendapatkan lebih, Polly.” 
“Karena kamu selalu melakukan lebih dari yang seharusnya. Kauingat dengan kursi goyangku yang berubah seperti baru?” pekik Kurcaci Delly.
“Juga lantai rumahku yang mengkilat?” tambah Nenek Angella.
“Jangan lupakan sekeranjang apel yang kau petik, Polly,” sahut Kakek Thomas.
Polly benar-benar tidak menyangka. Dia bertekad akan selalu melakukan yang terbaik. Lebih dari yang diperintahkan untuknya.(Vin)


Ayam Jahe

Huah..sudah lama sekali saya tidak menulis di blog. Bahkan cara masuk ke akun sendiri pun sampai lupa. ckckck..

Kali ini mau kembali posting naskah yang dimuat di Majalah. Ini naskah untuk rubrik 'Percikan' di majalah remaja 'GADIS'.. Dimuat di bulan Agustus 2016, setahun yang lalu. haha..

Saya ingat waktu itu saya baru bangun dari tidur siang, cek fb dan ada notif masuk. Nama saya dimensyen oleh mba Hairi Yanti, captionnya, "Mba Vina mau Ayam Jahe?". Saya yang masih setengah sadar bingung. Ayam Jahe adalah judul naskah percikan, tapi ini yang memberi tahu adalah ratunya Bobo (sudah banyak karnya mba Yanti di Bobo), masa sih saya kirim ke Bobo. Duh! Error pokoknya!
Kurang yakin juga karena naskah ini sudah lamaaaa sekali dikirimnya. Nyaris gak berani berharap. Akhirnya saya nanya, "Ini dimuat di Bobo, mba?". Mba Yanti jawab, "GADIS."
Whoaa. Langsung loncat-loncat seneng saya. Udahannya mikir, ya masa kirim ke GADIS terus dimuat di BOBO. Linglung...
***


AYAM JAHE

“Emm, enak banget, Sis! Kamu kok pintar membuat kue, sih? Belajar dari Ibumu, ya?” tanya Mala penasaran.
Siska mengangguk senang.
“Wah, ibumu sudah jago masak makanan berat, jago bikin kue juga. Bakat Ibumu nurun ke kamu tuh, Sis.” Mala kembali mencomot sepotong brownies.
Siska hanya tersenyum lalu menggigit brownies buatannya. Mala tidak tahu jika dia tidak bisa memasak menu utama. Ingin sih, belajar. Tapi dulu waktu Siska mengupas bawang merah, matanya berair terus-terusan dan pedih. Belum lagi dengan mengupas kunyit yang meninggalkan bekas kekuningan dan sulit hilang. Sekali-kalinya membantu Ibu menggoreng ikan, malah kecipratan minyak. Karena itu, Siska malas memasak hidangan utama. Lebih enak membuat kue, aman dari cidera. Pikirnya.
**
“Siska, hari minggu begini coba kamu bantuin Ibu memasak di dapur,” sahut Ayah tiba-tiba.
“Ayah, Siska kan sudah cukup mahir membuat aneka kue. Segala jenis kue basah seperti brownies, cheese cake sampai red velvet, Siska bisa. Kue kering, apalagi! Sudah cukup donk, Yah,” jawab Siska santai.
“Memang, Ayah akui kue buatan kamu uenaaakkk!” Ayah mengacungkan jempolnya. “Tapi paling tidak kamu bisa memasak lauk yang sederhana. Sop misalnya atau Ayam Jahe.”
“Oh, kalau itu mah gampang, Siska sudah bisa,” sahut Siska sesumbar.
“Serius kamu? Kebetulan tenggorokan Ayah sedikit gatal. Jadi hari ini Siska masakin Ayam Jahe buat Ayah, ya,” pinta Ayah senang.
Siska mengangguk. Ada Ibu, aku bisa tanya-tanya nantinya. Pikir Siska.
Tiba-tiba Ibu tergopoh-gopoh menghampiri Ayah.
“Ayah, Ibu pergi sebentar membesuk Bu Rini, barusan dapat kabar beliau kecelakaan Maaf, Ibu belum sempat memasak, nanti Ayah goreng telur saja, ya,” ucap Ibu.
“Tenang saja, Bu. Barusan Siska menyanggupi untuk memasakkan ayam jahe untuk Ayah. Bahan-bahannya ada semua, kan, Bu?” jawab Ayah.
“Kebetulan Ayam ada di kulkas, kalau bumbu dapur, sih, selalu komplit. Kamu yakin mau memasak, Sis?” tanya Ibu ragu.
Duh, bagaimana ini. Rutuk Siska dalam hati. Tapi gengsi ah, kalau batal. Hajar saja, masa si jago bikin kue nggak bisa masak makanan segampang Ayam Jahe.
“Yakin, Bu. Ibu tenang saja, serahkan pada chef Siska.”
**
Ayam sudah dikeluarkan dari freezer. Diambilnya baskom berisi air hangat, dimasukkan wadah ayam ke dalamnya. Beres. Sambil menunggu ayamnya lunak, siapkan bumbu dulu. Bumbu utama setiap masakan pasti bawang merah, bawang putih, garam dan merica. Karena namanya Ayam Jahe, pasti pake jahe! Tuh kan, aku bisa! Batin Siska senang.
Walauharus bolak-balik mengelap matanya dengan serbet dapur, akhirnya Siska berhasil mengiris si bawang merah. Bawang putih pun sudah digeprek dan dicacah halus. Tinggal mengiris jahe. Yang mana jahe? Duh, Siska bingung. Aha! Jahe berwarna putih dan baunya “sreng”. Tersisa dua macam bumbu dapur yang bercirikan seperti itu. Siska mengambil salah satunya.
Waktunya memasak. Bumbu-bumbu ditumis sampai harum, lalu masukkan rebusan ayam dan tambahkan garam dan merica. Tunggu sampai matang dan bumbu meresap. 
**
“Bagaimana, Yah?” 
Siska yakin Ayah akan memuji hasil masakannya. Bahan dan bumbu pas, nggak usah dicicipi juga sudah ketahuan enak.
“Ngg, kamu sudah mencobanya , Sis?” tanya Ayah
Siska menggeleng. 
“Ini apa bulat-bulat?”
“Itu merica, Yah,” jawab Siska polos.
“Ya ampun, merica yang masih bulat harus kamu haluskan dulu, Sis! Dan lagipula ini rasanya bukan Ayam Jahe, tapi Ayam Kencur.” Kamu malah memasukkan kencur, bukannya jahe!”
Olala….(selesai)

Rabu, 27 April 2016

Kantung Belanja ala Ruli

     Bertambah lagi karyaku yang dimuat di kolom Nusantara Bertutur, di Klasika Kompas. Masa tunggu hanya 9 hari ^_^. Di saat galau karena selalu ditolak di salah satu majalah, berita dimuatnya ini cukup menjadi pelipur lara *tsah

     Berikut naskahnya ^_^

     **

Kantung Belanja Ala Ruli
Oleh: Vina Maria. A

Di sebuah rumah di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, tepatnya di Dolok Sanggul, Ruli dimintai tolong oleh ibunya yang dipanggil Inong.
“Ruli, bisa tolong belikan telur di warung?,” pinta Inong yang tengah menyetrika baju.
Setelah diberi uang oleh Inong, Ruli bersiap pergi.
“Lho, Ruli tidak bawa kantong sendiri?” tanya Inong.
“Ruli, kan, membeli telurnya di warung bukan di minimarket. Di warung Amang Tagor, kantung belanjaan masih gratis, kok, Inong,” jawab Ruli.
Inong menggeleng, “Bagaimana sampah plastik akan berkurang jika begitu.”
Ruli pun berbalik ke dapur, mencari kantung-kantung kain yang dibeli Inong sebagai pengganti kantung plastik. Tapi tidak ada satu pun.“Inong, kantung kainnya tidak ada semua,”  sahut Ruli.
“Ah, Inong lupa. Satu dibawa Among untuk menyimpan baju ganti, sisanya di tetangga waktu bagi-bagi oleh-oleh kemarin.” Inong  memandang sekeliling. “Nah, pakai ini saja.” Inong menyodorkan sebuah baskom ke tangan Ruli lalu kembali menyetrika baju.
Ruli bengong. Apa kata teman-temannya nanti jika melihatnya membawa telur dalam baskom. Untuk membawanya pun butuh kedua tangan. Tapi perintah Inong tidak bisa ditolerir, apalagi maksud Inong benar. Ruli pun ngeri melihat berita di televisi mengenai sampah plastik. Toh, letak warung Amang Tagor tidaklah jauh.
Ah, Ruli punya ide supaya mudah membawa baskom berisi telur itu. Ruli buru-buru masuk ke kamar Inong dan dengan asal, Ruli menarik sehelai kain dari dalam lemari.
Sesampainya di warung, Ruli baru tahu jika yang diambilnya ternyata kaus milik Among. Untung saja Among berbadan besar. Ruli menaruh baskom berisi telur di tengah kaus dan mengikat setiap sudutnya. Ruli pun dengan mudah membawanya.
Pelan-pelan Ruli memasuki rumah dan bergegas menuju dapur. Di dapur ternyata ada Inong yang sedang minum. Inong  melihat tentengan di tangan Ruli.
“Maaf, Inong. Sebenarnya Ruli hendak mengambil kain, tapi yang terambil malah kaus Among,” ucap Ruli pelan.
“Tapi ide kamu hebat, Ruli. Kaus dijadikan tas.” Inong tersenyum.
Mendengar perkataan Inong, Ruli teringat dengan artikel yang dibacanya di mading sekolah. Artikel tentang membuat tas dari kaus bekas tanpa dijahit.
Ruli segera mengeluarkan kaus bekas miliknya dan menggunting kedua lengannya. Bagian bawahnya pun digunting hingga berumbai-rumbai. Lantas rumbai-rumbai itu diikat hingga menyatu.  Tas daur ulang ala Ruli pun jadi.

“Wah, sekarang Inong tidak perlu lagi membeli kantung kain,” seloroh Inong disusul dengan tawa mereka berdua. (selesai)


Dongeng Pertama di Majalah Bobo

     Ini dia cerita pertamaku yang dimuat di Bobo. Cerita ini hasil dari kelas menulis Merah Jambu yang diasuh oleh Ibu Nurhayati Pujiastuti. Kebetulan yang pertama dimuat adalah tugas di minggu ke-2, materi dongeng yang khusus dibimbing oleh Bu Yuniar Khairani.

     Karena ini naskah perdanaku di Bobo, jadi dua minggu sebelum terbit, pihak Bobo menelponku. Perasaanku? Wah, jelas seneng banget. Kelakuan pun jadi norak dan berlanjut sampai melihat penampakan naskahnya di Bobo.


     Terharu banget, deh! Apalagi masa tunggu yang lama, 11 bulan!

     Nah, ini dia dongeng pertamaku di Majalah Bobo ^_^

**

Gara-Gara Rufus si Kurcaci Kurir
                                                  Oleh : Vina Maria.A      

“Aaaahh, ya ampun!!” Peri Linzy berteriak, melihat telur yang dipecahkan di atas adonan kuenya, busuk. Dicobanya lagi dengan sisa telur yang lain. Namun ternyata semua telur di dalam keranjang, busuk! “Bagaimana ini? Padahal sudah tidak ada waktu lagi,” pekiknya panik.
            Cepat-cepat Peri Linzy menyiapkan adonan yang baru lalu memanggangnya. Hasilnya, kue tersebut bantat, karena dibuat tanpa telur. Peri Minzy pasti kecewa melihat kue pesanannya. Tapi mau bagaimana lagi.
Ini semua gara-gara Rufus, si kurcaci kurir yang selalu terlambat dalam mengantar barang. Kali ini Rufus terlambat mengirim telur pesanan Peri Linzy.
            Rufus memang bertugas untuk mengantarkan barang. Kurcaci atau Peri yang ingin mengirim suatu barang, mereka akan datang pada Rufus. Sebenarnya dalam satu hari, barang yang harus diantar tidaklah banyak, hanya saja Rufus suka menunda-nunda pekerjaannya. Akibatnya barang yang harusnya terkirim semua hari ini, masih tersisa.
“Ah, masih bisa dikirim besok,” pikir Rufus. Begitu setiap harinya, sampai barang-barang yang belum dikirim, menumpuk di rumah Rufus.
            Pernah Rufus mendapat tugas mengirimkan satu set benang  ke rumah Kurcaci Topito, kurcaci pembuat topi. Bibi Lulu Ulat berpesan, benang tersebut harus dikirim secepatnya karena persediaan benang Kurcaci Topito hampir habis. Rufus pun mengiyakan.
            Tapi dalam perjalanan, Rufus berkali-kali berhenti. Dia berlama-lama melihat jamur pelangi yang baru tumbuh, bermain sebentar dengan anak bebek dan mengejar kupu-kupu. Sampai disadari hari sudah siang. “Ah, rumah Kurcaci Topito jauh, besok saja aku mengantarnya.”
             Akibatnya, topi buatan Kurcaci Topito berwarna belang-belang, tak beraturan! Dia terpaksa memakai sisa benang yang ada, karena keluarga Kiku Kucing sudah memerlukan topi tersebut untuk berlibur.
 Banyak Kurcaci dan Peri yang dirugikan karena keterlambatan Rufus. Sayangnya, hanya Rufus satu-satunya kurcaci kurir. Rufus sudah sering ditegur, dinasehati bahkan sampai dimarahi kawan-kawannya. Tapi, Rufus tetap saja santai dalam menjalankan tugasnya.
            Suatu hari tersiar berita, bahwa Ratu Peri akan mengadakan pesta musim panas di kebun istana. Semua Kurcaci dan Peri bersiap-siap. Mereka menjahitkan baju terbaik, memesan sepatu terbaik dan topi terindah untuk menghargai Ratu Peri.
            Rufus juga mendengar berita tersebut dan ikut mempersiapkan diri. Sementara Kurcaci dan Peri yang lain sudah tinggal menunggu undangan resmi dari Ratu Peri, Rufus baru hendak menjahitkan bajunya, memesan sepatu juga topi.
            Undangan resmi dari Ratu Peri pun tiba. Pengawal Ratu memberikan setumpuk undangan  kepada Kepala Kurcaci untuk dibagi-bagikan.
            Giliran rumah Rufus yang didatangi oleh Kepala Kurcaci. Kepala Kurcaci mengetuk pintu dan membunyikan bel. Namun, Rufus tidak menjawab apalagi membuka pintu rumahnya. Bukan karena Rufus sedang pergi mengantar barang, tapi karena Rufus sedang asyik bermain gelembung udara di halaman belakang. Padahal Rufus mendengar bunyi bel. "Tunggu sampai gelembungku habis, baru aku bukakan pintu," pikir Rufus sambil terus bermain.                     
Jam 2 sore, Rufus baru selesai bermain. Betapa terkejutnya Rufus melihat amplop undangan di bawah pintu. Dan lebih terkejut lagi, pestanya diadakan hari ini, jam 4 sore.
Rufus segera berlari menuju rumah Peri Quinzy. “Peri Quinzy, aku mau mengambil baju pesananku.” Peri Quinzy segera mengambilkannya untuk Rufus. Tapi Rufus kaget, “Peri Quinzy, kenapa kancing di bajuku belum terpasang?”
 “Oh,itu karena pesanan kancingku belum datang,” jawab Peri Quinzy santai. “Sudah ya, aku mau bersiap-siap ke pesta Ratu Peri.” Peri Quinzy menutup pintu.
Rufus lalu terburu-buru pergi menuju rumah Kurcaci Sola. “Kurcaci Sola, aku hendak mengambil sepatu pesananku,” sahut Rufus sambil terengah-engah.
Kurcaci Sola menyerahkan sepasang sepatu yang belum jadi pada Rufus, sambil berkata, “Pesanan sol sepatu untukku belum datang, jadi aku tidak bisa menyelesaikan sepatumu.”
            Rufus kecewa melihat sepatunya. “Bagaimana aku bisa pergi ke pesta Ratu Peri?”
Kali ini Rufus mengetuk pintu Kurcaci Topito. Begitu melihat Rufus, Kurcaci Topito langsung menyerahkan topi belang-belang pada Rufus. “Benang warna hijau pesananku belum datang, aku memakai benang yang ada. Itu karena kurcaci kurir selalu datang terlambat!”

Rufus pulang ke rumahnya dengan gontai. Tidak mungkin Rufus pergi ke pesta Ratu Peri dengan baju tanpa kancing, sepatu setengah jadi dan topi belang. Sesampainya Rufus di rumah, matanya tertumbuk pada tiga buah paket yang harus dikirim dari kemarin-kemarin. Badannya semakin lemas, begitu membaca alamat dari masing-masing paket tersebut. Paket untuk Peri Quinzy, Kurcaci Sola dan Kurcaci Topito. (Vin)